Kaur hwnews.id – Strategi politik untuk memenangkan kontestasi dalam pemilihan kepala daerah memag perlu terlaksana, Apalagi untuk memenangkan pemilihan secara maksimal, bukan hanya tim yang bergerak akan tetapi juga butuh simpatisan dan militan yang elit. Dalam hal ini kita bisa melihat dalam perhelatan pesta demokrasi yang sudah berlalu, kebanyaka kegagalan peserta kontestasi adalah karna buruknya manajemen dalam menciptakan kondisi politik di masyarakat, apalagi kini masyarkat sudah pintar dalam menentukan pilihan untuk menjadi pemimpin yang menentukan kemajuan daerah nya untuk kedepan, Kamis (18/07/2024)
Budaya politik partisipan di Indonesia sudah sangat terlihat. Tolak ukurnya adalah level partisipasi politik masyarakat pada aktivitas politik semakin tinggi, baik berupa tuntutan maupun dukungan terhadap pemerintah. Sebagian besar masyarakatnya sudah tersosialisasikan dengan baik dalam bidang politik.
Akan tetapi, masih ada masyarakat yang tidak berdaya dalam memengaruhi pembuatan kebijakan. Masyarakat ini didominasi oleh individu yang marginal atau terpinggirkan, masyarakat yang tingkat perekonomiannya masih rendah, dan tingkat pendidikan yang rendah. Oleh karena itu, budaya politik masyarakat Indonesia termasuk kategori budaya politik campuran atau mixed political culture antara budaya politik partisipan dan budaya politik kaula-parokial.
Budaya politik partisipan banyak terlihat di kota-kota besar, seperti Bandung, Semarang, Surabaya, Yogyakarta, Palembang, Medan, dan kota metropolitan lainnya. Sedangkan budaya politik kaula-parokial masih ditemukan di daerah pedesaan atau terpencil.
Ikatan kesukuan atau primordial terhadap budaya daerah secara berlebihan terlihat masih mendominasi dan sangat kuat dalam kehidupan budaya politik Indonesia. Seperti, agama tertentu, suku bangsa dan ras, marga, serta sifat keaderahan. Oleh karena itu, elit politik sering memanfaatkan ikatan kedaerahan ini untuk tujuan politiknya yaitu mendapatkan dukungan dalam pemilihan umum.
Pemilihan kepala daerah memang menjadi ajang untuk menentukan kualitas sorang pemimpin dalam mengatur manajemen politik, apalagi untuk saat ini masyarakat lebih seliktif dalam memilih pemimpin, tentu hal ini menjadi seni tersendiri bagi calon kepala daerah yang ikut kontestasi. Akan tetapi koreksi politik dan berbenah dalam manajemen politik itu sangat terbukti efektip dalam menjalankan strategi politik tidak terlihat, sehingga dalam menjalankan misi untuk meluluhkan dan memenangkan hati masyarakat juga sangat tinggi.
Berbagai elit politik di Provinsi Bengkulu khususnya di Kabupaten Kaur juga menerapkan politik pendekatan secara persuasif, kenapa demikian, karna kultur budaya di Kabupaten Kaur lebih memandang kekeluargaan. hal inilah yang menjadikan para elit politik melakukan pendekatan secara halus atau persuasif, bukan itu saja politik campuran atau Mixed Political Culture juga sangat di minati para calon pemimpin di Kabupaten Kaur.
Akan tetapi untuk saat ini politik kesukuan masih efektifkah di masyarakat Kaur.? Tentu hal ini masih menjadi pertanyaan besar bagi masyarakat, tidak dapat di pungkiri dalam berbagai kesempatan politik kesukuan belum dapat lepas dari pandangan masyarakat, kuhusnya Kabupaten Kaur yang kultur budaya mentransmisikan warisan budaya dari satu generasi ke generasi berikutnya.